9 feb 13
KONSEP DASAR
RISET
1.1.PENDAHULUAN
Pada bab ini, akan membahas tentang riset. Yang
dimulai dengan definisi riset. Dari definisi ini akan dapat dipahami apa arti
dari riset. Beberapa peneliti berargumentasi bahwa riset harus dilakukan secara
ilmiah. Namun sebenarnya, metode riset ada 2, yaitu metode ilmiah, dan metode
naturalis. Kedua nya memiliki kelebihan-kelebihannya dan kelemahan-kelemahannya
masing-masing, sehingga keduanya harus dilakukan secara konplementer, saling
melengkapi. Pendekatan komplementer ini disbeut triangulatuion.
Riset metode ilmiah menggunakan pendekatan deduksi
dalam proses pengambilan keputusannya, sedangkan riset naturalis menggunakan
pendekatan induksi, Bagi para periset , untuk mendapatkan hasil riset dengan
baik, maka karakteristik riset yang baik perlu dipahami untuk dijadikan
pedoman.
Akhir dari riset adalah membuat laporan akhir
riset. Hasil riset tidak boleh sama satu
dan lainnya karna riset adalah proses yang sistematik yang tahapannya jelas dan
terencana , tidak sama dengan yang lain, dan tersusun. Umumnya riset terdiri
dari 6 bab.
1.2. DEFINISI
RISET
Berbagai definisi menurut para ahli
·
Riset (research)
didefinisikan oleh Sekaran (2003,
hal. 5) sebagai :
“Suatu investigasi atau keingintahuan saintifik yang
terorganisasi, sistematik, berbasis data, kritikal terhadap suatu masalah
dengan tujuan menemukan jawaban atau solusinya (an organized systematic,
data-based, critical, scientific inquiry or investigation into a specific
problem under-taken with the objective of finding answers or solutions to it).”
·
Sedang Kinney, Jr. (1986) mendefinfikan riset research sebagai :
“Pengembangan dan pengujian dari teori-teori baru
tentang bagaimana dunia nyata bekerja atau penolakan dari teori-teori yang
sudah ada.”
Lebih spesifik pada aplikasi di bisnis, riset bisnis
(business research) didefinisikan oleh Cooper
and Schindler (2001, hal. 5) sebagai :
“Pencarian yang sistematik yang menyediakan
informasi untuk mengarahkan keputusan-keputusan bisnis ( as a systematic
inquiry that provides information to guide business decisions).”
Dan pada edisi
berikutnya (2003, hal. 2) mendifiniskan riset bisnis sebagai :
“Pencarian yang sistematik yang menyediakan
informasi untuk memecahkan permasalahan-permasalahan manajerial (as a
systematic inquiry that provides information to solve managerial problems).”
1.3. RISET
ILMIAH
Definisi-definisi riset tersebut menunjukkan riset
yang menggunakan metode ilmiah (scientific method). Cooper and Schindler (2001,
2003) menunjukkan bahwa hal penting dari riset metode ilmiah (scientific
method) adalah :
-
Observasi
langsung terhadap fenomena ( direct observatiom of phenomena);
-
Variable-variabel,
metode-metode dan prosedur-prosedur riset didefinifikan dengan jelas (clearly
defined variable, methods, and procedures);
-
Hipotesis-hipotesis
diuji secara empiris (empirically testable hypotheses);
-
Mempunyai
kemampuan mengalahkan hipotesis saingan (the ablity to rule out rival
hypotheses);
-
Justifikasi
kesimpulan secara statistic tidak secara bahasa (statistical rather than
linguistic justification of conclusion) dan
-
Mempunyai proses
membetulkan dirinya sendiri (the self-correcting process).
Kerlinger (1973) juga
menjelaskan riset metode ilmiah
(scientific method) sebagai investigasi terhadap suatu set hipotesis-hipotesis
yang dibangun dari suatu struktur teori.
Dari definisi-definisi
ini , maka dapat dipahami bahwa penelitian menggunakan metode ilmiah atau metode
saintifik dilakukan dengan membangun satu atau lebih hipotesis-hipotesis
berdasarkan suatu struktur atau kerangka teori dan kemudian menguji hipotesis
atau hipotesis-hipotesis tersebut secara empiris tampak pada gambar berikut
ini.
|
Struktur teori
|
|
Hipotesis-hipotesis
|
|
Pengujian empiris
|
Gambar diatas merupakan Proses
Penelitian Menggunakan Metode Saintifik
Terlihat pada gambar di atas bahwa
penelitian menggunakan metode ilmiah melibatkan pengkonstruksian teori dan
verifikasi teori. \
Pengkonstruksian
teori (theory construction) adalah
proses untuk membentuk struktur atau kerangka teori. Struktur atau kerangka teori adlaah hubungan sebab-akibat antara
variable-variabel yang akan diteliti yang didukung oleh suatu teori yang sudah
ada. Dari hasil struktur teori dapat dikembangkan suatu hipotesis yang relevan
dengan struktur teorinya. Hipotesis ini kemudian akan diuji secara empiris,
menggunakan fakta.
Verifikasi teori
(theory verification) adalah proses
memverifikasi teori lewat pengujian hipotesis secara empiris, menggunakan fakta
yang objektif, tidak tergantung kepercayaan atau nilai-nilai peniliti maupun
kepercayaan orang lain. Bebas nilai
(value free) adalah peneliti tidak menggantungkan kepercayaannya tetapi
pada fakta yang ditunjukkan secara empiris.
Riset saintifik tidak berbasis pada perasaan,
pengalaman dan intusi periset semata yang bersifat subjektif, tetapi lebih
bersifat objektif.
Sekaran
(1992, 2003) lebih lanjut membedakan riset saintik dengan riset-riset lainnya
sebagai berikut :
1.
Berketujuan ,
yaitu riset saintik mempunyai tujuan yang jelas.
2.
Kokoh,
menunjukkan proses riset saintifik dilakukan dengan hati-hati.
3.
Ujibilitas,
menunjukkan bahwa riset saintifik dapat menguji hipotesis-hipotesis.
4.
Replikabilitas ,
yaiut riset saintik dapat diulang dengan menggunakan data yang lain.
5.
Ketepatan dan
keyakinan, menunjukkan bahwa tidak ada riset yang sempurna.
6.
Objektivitas,
menunjukkan bahwa riset saintifik memberikan hasil dan konklusi yg objektif.
7.
Generalisabilitas,
riset saintifik mampu diuji ulang
8.
Sederhana, riset
saintifik mempunyai kemudahan dalam menjelaskan risetnya.
1.4. RISET
METODE ILMIAH LAWAN RISET METODE NATURALIS
Lawan dari penelitian pendekatann ilmiah adalah penelitian pendekatan alamiah atau naturalis. Pendekatan ini menolak bentuk terstruktur
dari riset. Tujuan riset seperti ini jarang dilakukan dan yang umum dilakukan
adalah untuk menemukan teori yang baru. Penelitian ini lebih menggunakan dan
menjaga setting alamiah ,dimana fenomena atau perilaku yang akan diamati.
Menurut Abdel-Khalik dan Ajinkya (1979) , penelitian
mengguanakn metode naturalis ini sejalan dengan grounded theory yang
dikembangkan oleh Glaser dan Straus (1967). Teori membumi (grounded theory) percaya bahwa cara terbaik untuk
menjelaskan dan membangun teori adalah dengan menemukannya dari data.
Pendekatan saintifik menolak hal ini dan berargumentasi bahwa “facts do not
speak for themselves” (Blalock, 1969).
Perbedaan metode saintifik dengan metode naturalis
|
Pendekatan saintifik
|
Pendekatan naturalis
|
|
- Menggunakan
struktur teori
|
-Tidak
menggunakan struktur teori karena lebih bertujuan menemukan teori bukan
memverifikasi teori, kecuali jika tujuan penelitiannya ingin membuktikan atau
menemukan keterbatasan dari suatu teori.
|
|
-Struktur
teori digunakan untuk membangun satu atau lebih hipotesis-hipotesis.
|
-Hipotesis
jika ada sifatnya implicit tidak eksplisit.
|
|
-Pendekatan
ilmaih melakukan setting artifisal misalnya dengan metode eksperimen dengan memanipulasi
beberapa variabel.
|
-Pendekatan
naturalis menolak bentuk terstruktur dari riset. Pendekatan naturalis juga
menolak pengaturan-pengaturan riset secara artificial. Penelitian pendekatan
naturalis lebih menggunakan dan menjaga setting alamiah dimana fenomena
|
|
-Pendekatan
saintifik menolak bahwa teori membumi di datanya dan berargumentasi bahwa
“facts do not speak for themselves” (Blalock, 1969).
|
-Sejalan
dengan konsep grounded theory yang
dikembangkan Glaser dan Straus (1967) yang percaya bahwa cara terbaik untuk
menjelaskan dan membangun teori adalah dengan menemukannya dari data.
Pendekatan ini menganggap bahwa teori grounded di datanya.
|
|
-Pendekatan
saintifik membutuhkan pengujian secara kuantitatif dan statistic.
|
-Pengikut
grounded theory termasuk yg mengembangkan metode penelitian eksplorasi yang tidak mengguanakn data kuantitatif dan
teknik statistic untuk mrnyimpulkan hasil yang diobservasi. Metode naturalis
dan metode eksplorasi bersifat kualitatif.
|
Kelemahan-kelemahan dan kebaikan-kebaikan untuk
pendekatan saintifik dan pendekatan naturalis
|
Pendekatan saintifik
|
Pendekatan naturalis
|
|
(+) Menilai
data lebih objektif, karena tidak boleh terpengaruh oleh nilai atau
kepercayaam periset atau orang lain.
|
(-) Menilai
data lebih subjektif karena hasil observasi langsung periset dan periset
sendiri yang menyimpulkannya
|
|
(-) Setting
tidak natural dapat menurunkan validitas penelitian
|
(+) Setting
natural tidak diubah oelh periset
|
|
(-) Penelitian
kurang terfokus tetapi lebih luas, sehingga kurang mendalam.
|
(+) Penelitian
lebih terfokus dan mendalam
|
|
(-) Penelitian
biasanya menjelaskan dan memprediksi fenomena yang tampak, sehingga lebih
mengarah ke verifikasi teori.
|
(+) Penelitian
lebih mendetail ke hal-hal di bawah permukaan yang belum tampak
|
|
(+) Dari segi
kemudahan mendapatkan data, data sekunder yang tersedia dapat digunakan.
|
(-) Data
primer harus dikumpulkan sendiri oleh periset yang biasanya melibatkan waktu yang lama untuk
mendapatkannya dengan terlibat langsung sebagai pengobservasi di tempat
kejadian
|
|
(+) Eksternal
validity lebih tinggi karena dapat melibatkan permasalahan yang lebih luas
menggunakan waktu yang lebih panjang dan perusahaan yg lebih panjang dan
perusahaan yg lebih banyak sbagai objek penelitian karena tersedia di data
sekunder.
|
(-) Eksternal
validity rendah karena hanya melibatkan satu permasalahan di suatu organisasi
saja karena data primer harus diobservasi sendiri yang tidak mungkin dan
membutuhkan banyak waktu untuk melibatkan banyak organisasi
|
Dari tabel diatas terlihat masing-masing kelemahan
dan kebaikan setiap pendekatan. Jika demikian, pendekatanm mana yang harus
digunakan? Jawaban tergantung dari
beberapa hal sebagai berikut ini.
1.
Aliran utama
atau kelompok pemikiran.
2.
Kondisi atau
lingkungan yang terjadi.
3.
Tingkat keluasan
dan kedalaman penelitian yang diinginkan.
4.
Jika
dimungkinkan, kedua pendekatan ini dapat digabungkan untuk digunakan
bersama-sama.
1.5. DEDUKASI
DAN INDUKSI
Hasil riset harus dijelaskan dengan argument yang
dapat diterima. Argumen (argument) memungkinkan
periset untuk menjelaskan, menginterpretasikan , mempertahankan, menantang dan
mencari arti lebih lanjut (Cooper dan Schindler, 2003). Dua bentuk proses
argument yang digunakan diriset adalah deduksi dan induksi.
Proses deduksi : Proses pengambilan kesimpulan
menggunakan hipotesis dengan menggunakan data empiris , metode nya disebut
metode deduktif dan riset nya riset deduktif. Deduksi adalah proses pengambilan keputusan berdasarkan hasil
analisi dari data.
Sedangkan, proses induksi : Proses pembentukan hipotesis berdasarkan
data yang ada dan pengambilan keputusan. Metodenya disebut metode induktif ,dan
riset nya disebut riset induktif. Induksi
didefinisikan sebagai proses mengambil kesimpulan yang didasarkan pada satu
atau lebih fakta dan bukti-bukti.
1.6. MACAM-MACAM
RISET
Ada 4 macam kegiatan riset menurut Cooper dan
Schindler :
1.
Pelaporan
(reporting)
2.
Penggambarna
(descriptive)
3.
Penjelasan
(explanatory)
4.
Prediksi
(predictive).
1.7.
LANGKAH-LANGKAH RISET METODE ILMIAH
Langkah-langkah nya jelas dan tersetruktur. Langkah-langkah dari riset adalah :
1.
Mengidentifikasi
isu atau topic dari riset.
2.
Menjual ide atau
isu tersebut dengan cara menjustifikasi
bahwa isu tersebut adalah menarik dan penting untuk diteliti
3.
Menentukan
tujuan dan kontribusi dari riset
4.
Mengembangkan
hipotesis
5.
Merancangkan
riset
6.
Mengumpulkan
data
7.
Menganalisis
data dan menguji hipotesis
8.
Membuat
ringkasan, mengevaluasi, dan mendiskusikan hasil pengujian serta menyimpulkan
hasilnya
9.
Menunjukkan
keterbatasan dan halangan-halanga nriset
10. Mengusulkan perbaikan-perbaikan riset berikutnya.
1.8. LAPORAN
HASIL RISET
Laporan hasil riset menunjukkan laporan tertulis
setelah riset selesai dilakukan dan dilaporkan kepada pihak yang
membutuhkannay. Isi dan laporan tertulis
ini menunjukkan proses dari riset tersebut. Isi dan laporan nya dapat dilihat
berdasarkan 5bab ,sebagai berikut:
BAB 1. PENDAHULUAN
BAB 2. KAJI TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
BAB 3. DISAIN RISET
BAB 4. HASIL
BAB 5. RINGKASAN, SIMPULAN, DISKUSI, IMPLIKASI ,
KEKURANGAN-KEKURANGAN DAN SARAN-SARAN
LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA.
1.9. FORMAT
PENULISAN DAFTAR PUSTAKA
Daftar pustaka berisikan sumber-sumber bacaan yang
digunakan untuk melakukan penelitian. Daftar pustaka tidak sembarangan ,harus
berupa tesis, disertasim, symposium, buku, artikel jurnal, majalah , atau
sumber dari situs internet. Penulisan daftar pustaka harus berdasarkan format.
·
Format American
Psychological Association
(APA) 5th , cntoh
Arief, K. (2003). Pasar Efisien dan Perilakunya.
Unpublished Tesis S2, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
·
Format Chicago
Review
Arief, Kurnia. “Pasar Efisien dan Perilakunya.”
Tesis S2, Universitas Gadjah Mada, 2003.
·
Format Turabian
Arief, Kurnia. “Pasar Efisien dan Perilakunya.”
Tesis S2, Universitas Gadjah Mada, 2003.
·
Format Academy
Management Review
Arief, K. (2003). Pasar Efisien dan Perilakunya.
Unpublished Tesis S2, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
·
Format MIS
Quarterly
Arief, K. “(Pasar Efisien dan Perilakunya,” in :
Akuntasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2003, p.155.
1.10. STRUKTUR
PEMBAHASAN BUKU INI (METODOLOGI PENELITIAN BISNIS)
Dalam buku ini tentu nya memiliki struktur buku ,
yang dimana didalam nya penulis melakukan proses ridet, sehingga mendapatkan
laporan hasil riset. Yang dimana untuk membantu memudahkan si pembaca.
1.11. PENGALAMAN-PENGALAMAN
PENULIS
Para peneliti-peneliti lulusan dari
Universitas-universitas di Amerika Serikat umumnya menggunakan riset metode
ilmiah. Di pihak lain, periset-periset lulusan dari Universitas-universitas di
Australia sebagian menggunakan riset metode ilmiah dan sebagian menggunakan
metode naturalis.
Sedangkan pada pengalaman penulis dalam mengajar
metodologi penelitian di tingkat S3 juga menekankan bahwa kedua pendekatan ini
seharusnya tidak bertentangan dan meremehkan yang lainnya. Menurut Watts dan
Zimmerman (1986) berargumentasi bahwa riset pendekatan positif merupakan
pendekatan yang ilmiah dan pendekatan lainnya tidak ilmiah. Alasannya adalah bahwa riset positif bebas
dari nilai-nilai perisetnya sehingga lebih bersifat objektif. Sedangkan, Christenson
(1983) mengkritik argumentasi ini dan menyatakan Watts dan Zimmerman terlalu
arogan. Riset yang penulis tolak adalah riset-riset pendekatan naturalis yang
menggunakan data kauntitaif dengan sumber data sekunder sebuah perusahaan saja
yang dapat dijadikan sampel. Sebaliknya, dengan menggunakan data kualitatif,
hasil riset akan lebih mendalam sebagai trade-off hanya menggunakan sebuah
perusahaan sebagai sampelnya. Peneliti
lebih memahami metode tersebut dibandingkan dengan mereka yang bukan alirannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar