Selasa, 04 Juni 2013

KONSEP DASAR RISET


9 feb 13
KONSEP DASAR RISET

1.1.PENDAHULUAN
Pada bab ini, akan membahas tentang riset. Yang dimulai dengan definisi riset. Dari definisi ini akan dapat dipahami apa arti dari riset. Beberapa peneliti berargumentasi bahwa riset harus dilakukan secara ilmiah. Namun sebenarnya, metode riset ada 2, yaitu metode ilmiah, dan metode naturalis. Kedua nya memiliki kelebihan-kelebihannya dan kelemahan-kelemahannya masing-masing, sehingga keduanya harus dilakukan secara konplementer, saling melengkapi. Pendekatan komplementer ini disbeut triangulatuion.
Riset metode ilmiah menggunakan pendekatan deduksi dalam proses pengambilan keputusannya, sedangkan riset naturalis menggunakan pendekatan induksi, Bagi para periset , untuk mendapatkan hasil riset dengan baik, maka karakteristik riset yang baik perlu dipahami untuk dijadikan pedoman.
Akhir dari riset adalah membuat laporan akhir riset.  Hasil riset tidak boleh sama satu dan lainnya karna riset adalah proses yang sistematik yang tahapannya jelas dan terencana , tidak sama dengan yang lain, dan tersusun. Umumnya riset terdiri dari 6 bab.

1.2. DEFINISI RISET
Berbagai definisi menurut para ahli
·         Riset (research) didefinisikan oleh Sekaran (2003, hal. 5) sebagai :
“Suatu investigasi atau keingintahuan saintifik yang terorganisasi, sistematik, berbasis data, kritikal terhadap suatu masalah dengan tujuan menemukan jawaban atau solusinya (an organized systematic, data-based, critical, scientific inquiry or investigation into a specific problem under-taken with the objective of finding  answers or solutions to it).”
·         Sedang Kinney, Jr. (1986) mendefinfikan riset research sebagai :
“Pengembangan dan pengujian dari teori-teori baru tentang bagaimana dunia nyata bekerja atau penolakan dari teori-teori yang sudah ada.”
Lebih spesifik pada aplikasi di bisnis, riset bisnis (business research) didefinisikan oleh Cooper and Schindler (2001, hal. 5) sebagai :
“Pencarian yang sistematik yang menyediakan informasi untuk mengarahkan keputusan-keputusan bisnis ( as a systematic inquiry that provides information to guide business decisions).”
Dan pada edisi berikutnya (2003, hal. 2) mendifiniskan riset bisnis sebagai :
“Pencarian yang sistematik yang menyediakan informasi untuk memecahkan permasalahan-permasalahan manajerial (as a systematic inquiry that provides information to solve managerial problems).”

1.3. RISET ILMIAH
Definisi-definisi riset tersebut menunjukkan riset yang menggunakan metode ilmiah (scientific method). Cooper and Schindler (2001, 2003) menunjukkan bahwa hal penting dari riset metode ilmiah (scientific method) adalah :
-          Observasi langsung terhadap fenomena ( direct observatiom of phenomena);
-          Variable-variabel, metode-metode dan prosedur-prosedur riset didefinifikan dengan jelas (clearly defined variable, methods, and procedures);
-          Hipotesis-hipotesis diuji secara empiris (empirically testable hypotheses);
-          Mempunyai kemampuan mengalahkan hipotesis saingan (the ablity to rule out rival hypotheses);
-          Justifikasi kesimpulan secara statistic tidak secara bahasa (statistical rather than linguistic justification of conclusion) dan
-          Mempunyai proses membetulkan dirinya sendiri (the self-correcting process).

Kerlinger (1973) juga menjelaskan riset metode ilmiah (scientific method) sebagai investigasi terhadap suatu set hipotesis-hipotesis yang dibangun dari suatu struktur teori.
Dari definisi-definisi ini , maka dapat dipahami bahwa penelitian menggunakan metode ilmiah atau metode saintifik dilakukan dengan membangun satu atau lebih hipotesis-hipotesis berdasarkan suatu struktur atau kerangka teori dan kemudian menguji hipotesis atau hipotesis-hipotesis tersebut secara empiris tampak pada gambar berikut ini.
Struktur teori
                                                                                                Pengkonstruksian teori
Hipotesis-hipotesis
                                                                                          Pengujian atau verifikasi teori
Pengujian empiris
Gambar diatas merupakan Proses Penelitian Menggunakan Metode Saintifik
Terlihat pada gambar di atas bahwa penelitian menggunakan metode ilmiah melibatkan pengkonstruksian teori dan verifikasi teori. \
Pengkonstruksian teori (theory construction) adalah proses untuk membentuk struktur atau kerangka teori. Struktur atau kerangka teori adlaah hubungan sebab-akibat antara variable-variabel yang akan diteliti yang didukung oleh suatu teori yang sudah ada. Dari hasil struktur teori dapat dikembangkan suatu hipotesis yang relevan dengan struktur teorinya. Hipotesis ini kemudian akan diuji secara empiris, menggunakan fakta.
Verifikasi teori (theory verification) adalah proses memverifikasi teori lewat pengujian hipotesis secara empiris, menggunakan fakta yang objektif, tidak tergantung kepercayaan atau nilai-nilai peniliti maupun kepercayaan orang lain. Bebas nilai (value free) adalah peneliti tidak menggantungkan kepercayaannya tetapi pada fakta yang ditunjukkan secara empiris.
Riset saintifik tidak berbasis pada perasaan, pengalaman dan intusi periset semata yang bersifat subjektif, tetapi lebih bersifat objektif.
            Sekaran (1992, 2003) lebih lanjut membedakan riset saintik dengan riset-riset lainnya sebagai berikut :
1.      Berketujuan , yaitu riset saintik mempunyai tujuan yang jelas.
2.      Kokoh, menunjukkan proses riset saintifik dilakukan dengan hati-hati.
3.      Ujibilitas, menunjukkan bahwa riset saintifik dapat menguji hipotesis-hipotesis.
4.      Replikabilitas , yaiut riset saintik dapat diulang dengan menggunakan data yang lain.
5.      Ketepatan dan keyakinan, menunjukkan bahwa tidak ada riset yang sempurna.
6.      Objektivitas, menunjukkan bahwa riset saintifik memberikan hasil dan konklusi yg objektif.
7.      Generalisabilitas, riset saintifik mampu diuji ulang
8.      Sederhana, riset saintifik mempunyai kemudahan dalam menjelaskan risetnya.

1.4. RISET METODE ILMIAH LAWAN RISET METODE NATURALIS
Lawan dari penelitian pendekatann ilmiah adalah penelitian pendekatan alamiah atau naturalis.  Pendekatan ini menolak bentuk terstruktur dari riset. Tujuan riset seperti ini jarang dilakukan dan yang umum dilakukan adalah untuk menemukan teori yang baru. Penelitian ini lebih menggunakan dan menjaga setting alamiah ,dimana fenomena atau perilaku yang akan diamati.
Menurut Abdel-Khalik dan Ajinkya (1979) , penelitian mengguanakn metode naturalis ini sejalan dengan grounded theory yang dikembangkan oleh Glaser dan Straus (1967). Teori membumi (grounded theory) percaya bahwa cara terbaik untuk menjelaskan dan membangun teori adalah dengan menemukannya dari data. Pendekatan saintifik menolak hal ini dan berargumentasi bahwa “facts do not speak for themselves” (Blalock, 1969).
Perbedaan metode saintifik dengan metode naturalis
Pendekatan saintifik
Pendekatan naturalis
- Menggunakan struktur teori
-Tidak menggunakan struktur teori karena lebih bertujuan menemukan teori bukan memverifikasi teori, kecuali jika tujuan penelitiannya ingin membuktikan atau menemukan keterbatasan dari suatu teori.
-Struktur teori digunakan untuk membangun satu atau lebih hipotesis-hipotesis.
-Hipotesis jika ada sifatnya implicit tidak eksplisit.
-Pendekatan ilmaih melakukan setting artifisal misalnya dengan metode eksperimen dengan memanipulasi beberapa variabel.
-Pendekatan naturalis menolak bentuk terstruktur dari riset. Pendekatan naturalis juga menolak pengaturan-pengaturan riset secara artificial. Penelitian pendekatan naturalis lebih menggunakan dan menjaga setting alamiah  dimana fenomena
-Pendekatan saintifik menolak bahwa teori membumi di datanya dan berargumentasi bahwa “facts do not speak for themselves” (Blalock, 1969).
-Sejalan dengan konsep grounded theory yang dikembangkan Glaser dan Straus (1967) yang percaya bahwa cara terbaik untuk menjelaskan dan membangun teori adalah dengan menemukannya dari data. Pendekatan ini menganggap bahwa teori grounded di datanya.
-Pendekatan saintifik membutuhkan pengujian secara kuantitatif dan statistic.
-Pengikut grounded theory termasuk yg mengembangkan metode penelitian eksplorasi yang tidak mengguanakn data kuantitatif dan teknik statistic untuk mrnyimpulkan hasil yang diobservasi. Metode naturalis dan metode eksplorasi bersifat kualitatif.

Kelemahan-kelemahan dan kebaikan-kebaikan untuk pendekatan saintifik dan pendekatan naturalis
Pendekatan saintifik
Pendekatan naturalis
(+) Menilai data lebih objektif, karena tidak boleh terpengaruh oleh nilai atau kepercayaam periset atau orang lain.
(-) Menilai data lebih subjektif karena hasil observasi langsung periset dan periset sendiri yang menyimpulkannya
(-) Setting tidak natural dapat menurunkan validitas penelitian
(+) Setting natural tidak diubah oelh periset
(-) Penelitian kurang terfokus tetapi lebih luas, sehingga kurang mendalam.
(+) Penelitian lebih terfokus dan mendalam
(-) Penelitian biasanya menjelaskan dan memprediksi fenomena yang tampak, sehingga lebih mengarah ke verifikasi teori.
(+) Penelitian lebih mendetail ke hal-hal di bawah permukaan yang belum tampak
(+) Dari segi kemudahan mendapatkan data, data sekunder yang tersedia dapat digunakan.
(-) Data primer harus dikumpulkan sendiri oleh periset yang  biasanya melibatkan waktu yang lama untuk mendapatkannya dengan terlibat langsung sebagai pengobservasi di tempat kejadian
(+) Eksternal validity lebih tinggi karena dapat melibatkan permasalahan yang lebih luas menggunakan waktu yang lebih panjang dan perusahaan yg lebih panjang dan perusahaan yg lebih banyak sbagai objek penelitian karena tersedia di data sekunder.
(-) Eksternal validity rendah karena hanya melibatkan satu permasalahan di suatu organisasi saja karena data primer harus diobservasi sendiri yang tidak mungkin dan membutuhkan banyak waktu untuk melibatkan banyak organisasi

Dari tabel diatas terlihat masing-masing kelemahan dan kebaikan setiap pendekatan. Jika demikian, pendekatanm mana yang harus digunakan? Jawaban  tergantung dari beberapa hal sebagai berikut ini.
1.      Aliran utama atau kelompok pemikiran.
2.      Kondisi atau lingkungan yang terjadi.
3.      Tingkat keluasan dan kedalaman penelitian yang diinginkan.
4.      Jika dimungkinkan, kedua pendekatan ini dapat digabungkan untuk digunakan bersama-sama.

1.5. DEDUKASI DAN INDUKSI
Hasil riset harus dijelaskan dengan argument yang dapat diterima. Argumen (argument) memungkinkan periset untuk menjelaskan, menginterpretasikan , mempertahankan, menantang dan mencari arti lebih lanjut (Cooper dan Schindler, 2003). Dua bentuk proses argument yang digunakan diriset adalah deduksi dan induksi.
Proses deduksi : Proses pengambilan kesimpulan menggunakan hipotesis dengan menggunakan data empiris , metode nya disebut metode deduktif dan riset nya riset deduktif. Deduksi adalah proses pengambilan keputusan berdasarkan hasil analisi dari data.
Sedangkan, proses induksi  : Proses pembentukan hipotesis berdasarkan data yang ada dan pengambilan keputusan. Metodenya disebut metode induktif ,dan riset nya disebut riset induktif. Induksi didefinisikan sebagai proses mengambil kesimpulan yang didasarkan pada satu atau lebih fakta dan bukti-bukti.

1.6. MACAM-MACAM RISET
Ada 4 macam kegiatan riset menurut Cooper dan Schindler :
1.      Pelaporan (reporting)
2.      Penggambarna (descriptive)
3.      Penjelasan (explanatory)
4.      Prediksi (predictive).

1.7. LANGKAH-LANGKAH RISET METODE ILMIAH
Langkah-langkah nya jelas dan tersetruktur.  Langkah-langkah dari riset adalah :
1.      Mengidentifikasi isu atau topic dari riset.
2.      Menjual ide atau isu  tersebut dengan cara menjustifikasi bahwa isu tersebut adalah menarik dan penting untuk diteliti
3.      Menentukan tujuan dan kontribusi dari riset
4.      Mengembangkan hipotesis
5.      Merancangkan riset
6.      Mengumpulkan data
7.      Menganalisis data dan menguji hipotesis
8.      Membuat ringkasan, mengevaluasi, dan mendiskusikan hasil pengujian serta menyimpulkan hasilnya
9.      Menunjukkan keterbatasan dan halangan-halanga nriset
10.  Mengusulkan perbaikan-perbaikan riset berikutnya.

1.8. LAPORAN HASIL RISET
Laporan hasil riset menunjukkan laporan tertulis setelah riset selesai dilakukan dan dilaporkan kepada pihak yang membutuhkannay.  Isi dan laporan tertulis ini menunjukkan proses dari riset tersebut. Isi dan laporan nya dapat dilihat berdasarkan 5bab ,sebagai berikut:
BAB 1. PENDAHULUAN
BAB 2. KAJI TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
BAB 3. DISAIN RISET
BAB 4. HASIL
BAB 5. RINGKASAN, SIMPULAN, DISKUSI, IMPLIKASI , KEKURANGAN-KEKURANGAN DAN SARAN-SARAN
LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA.

1.9. FORMAT PENULISAN DAFTAR PUSTAKA
Daftar pustaka berisikan sumber-sumber bacaan yang digunakan untuk melakukan penelitian. Daftar pustaka tidak sembarangan ,harus berupa tesis, disertasim, symposium, buku, artikel jurnal, majalah , atau sumber dari situs internet. Penulisan daftar pustaka harus berdasarkan format.
·         Format American Psychological Association (APA) 5th , cntoh
Arief, K. (2003). Pasar Efisien dan Perilakunya. Unpublished Tesis S2, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
·         Format Chicago Review
Arief, Kurnia. “Pasar Efisien dan Perilakunya.” Tesis S2, Universitas Gadjah Mada, 2003.
·         Format Turabian
Arief, Kurnia. “Pasar Efisien dan Perilakunya.” Tesis S2, Universitas Gadjah Mada, 2003.
·         Format Academy Management Review
Arief, K. (2003). Pasar Efisien dan Perilakunya. Unpublished Tesis S2, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
·         Format MIS Quarterly
Arief, K. “(Pasar Efisien dan Perilakunya,” in : Akuntasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2003, p.155.

1.10. STRUKTUR PEMBAHASAN BUKU INI (METODOLOGI PENELITIAN BISNIS)
Dalam buku ini tentu nya memiliki struktur buku , yang dimana didalam nya penulis melakukan proses ridet, sehingga mendapatkan laporan hasil riset. Yang dimana untuk membantu memudahkan si pembaca.
1.11. PENGALAMAN-PENGALAMAN PENULIS
Para peneliti-peneliti lulusan dari Universitas-universitas di Amerika Serikat umumnya menggunakan riset metode ilmiah. Di pihak lain, periset-periset lulusan dari Universitas-universitas di Australia sebagian menggunakan riset metode ilmiah dan sebagian menggunakan metode naturalis.
Sedangkan pada pengalaman penulis dalam mengajar metodologi penelitian di tingkat S3 juga menekankan bahwa kedua pendekatan ini seharusnya tidak bertentangan dan meremehkan yang lainnya. Menurut Watts dan Zimmerman (1986) berargumentasi bahwa riset pendekatan positif merupakan pendekatan yang ilmiah dan pendekatan lainnya tidak ilmiah.  Alasannya adalah bahwa riset positif bebas dari nilai-nilai perisetnya sehingga lebih bersifat objektif. Sedangkan, Christenson (1983) mengkritik argumentasi ini dan menyatakan Watts dan Zimmerman terlalu arogan. Riset yang penulis tolak adalah riset-riset pendekatan naturalis yang menggunakan data kauntitaif dengan sumber data sekunder sebuah perusahaan saja yang dapat dijadikan sampel. Sebaliknya, dengan menggunakan data kualitatif, hasil riset akan lebih mendalam sebagai trade-off hanya menggunakan sebuah perusahaan sebagai sampelnya.  Peneliti lebih memahami metode tersebut dibandingkan dengan mereka yang bukan alirannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar